Selamat Datang Di Blog Saya

Selamat Daatang Di Blog Saya !!! ~~~~

Selasa, 30 April 2013

Peristiwa 10 November


Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putihdikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato(bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di hotel Yamato
Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dandiplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowoberhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

Senin, 29 April 2013

Perang Puputan

Puputan adalah tradisi perang masyarakat
Bali. Puputan berasal dari kata puput.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
kata puput bermakna terlepas dan tanggal.
Adapun yang dimaksud dengan kata puputan
versi pribumi bali adalah perang sampai
nyawa lepas atau tanggal dari badan. Dapat
dikatakan kalau puputan adalah perang
sampai game over atau titik darahterakhir.
Istilah Margarana diambil dari lokasi
pertempuran hebat yang saat itu
berlangsung di daerah Marga, Tababan-Bali.
Menurut sejarah, ada sejumlah puputan
yang meletus di Bali. Namun, yang terkenal
dan termasuk hebat, terdapat sekitar dua
puputan. Pertama, Puputan Jagaraga yang
dipimpin oleh Kerajaan Buleleng melawan
imprealis Belanda. Strategi puputan yang
diterapkan ketika itu adalah sistem tawan
karang dengan menyita transportasi laut
imprealis Belanda yang bersandar ke
pelabuhan Buleleng. Kedua, puputan
Margarana yang berpusat di Desa Adeng,
Kecamatan Marga, Tababan, Bali. Tokoh
perang ini adalah Letnan Kolonel I Gusti
Ngurah Rai. I Gusti Ngurah Rai dilahirkan di
Desa Carangsari, Kabupaten Badung, Bali, 30
Januari 1917.
Puputan Margarana dianggap banyak pihak
sebagai perang sengit yang pernah bergulir
di Pulau Dewata, Bali. Terdahap beberapa
versi yang melatarbelakangi meledaknya
Puputan Margarana. Namun, jika kembali
membalik lembaran sejarah Indonesia, maka
dapat ditarik sebuah benang merah bahwa
perang ini terjadi akibat ketidakpuasan yanglahir pasca Perjanjian Linggarjati
 Makam Para Pejuang di Bali



Sejarah Pancasila dan Panitia Sembilan

Panitia Sembilan dibentuk 1 Juni 1945,Pamitia Sembilan adalah Panitia yangberanggotakan 9 orang yang bertugas merumuskan dasar negara Indonesia yang tercantum pada UUD 1945 yang diketuai oleh Ir.Soekarno.
Anggota Panitia Sembilan,yaitu
1.Ir.Soekarno
2.H.Agus Salim
3.Abdul Kahar Muzakar
4.Mr.Ahmad Soebardjo
5.Mr.Moh.Yamin
6.Kyai Wahid Hashim
7.Drs.Moh.Hatta
8.Mr.Alex Andries Maramis
9.Abikusno Tjokrosujoso

Setelah melakukan kompromi dari 4 orang Nasionalis dan 4 orang dari pihak Islam, Tanggal 22 Juni 1945
Panitia Sembilan manghasilkan rumusan yang di berinama Jakarta Charter ( Piagam Jakarta ).
Isi Piagam Jakarta,yaitu
1.Ketuhanan dengan menjalankan Syarian Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya.
2.Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3.Persatuan Indonesia.
4.Kerakyatan yang dipimmpin oleh Khidmatkebijaksanaan dalam permusya waratan perwakilan.
5.Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Karna di Indonesia banyak penganut agama Selain Islam,maka sila Pertama diganti dengan " Ketuhanan yang maha esa "

                  isi piagam Jakarta

Sabtu, 27 April 2013

Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta

Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman,dan Jend.Soeharto pada waktu itu sebagai Komandan Brigade X/Wehrkreis III juga turut serta sebagai Pelaksana Lapangan di Wilayah Yogyakarta.

ALASAN KOTA YOGYAKARTA DIJADIKAN SASARAN SERANGAN UMUM 1 MARET:
1.Dikota Jogja banyak duta besar asing dan terdapat wakil-wakil dari Komisi Tiga Negara ( KTN ).
2.Banyak wartawan asing.
3.Jogja termasuk daerah Wherekreise,sehingga memudahkan koordinasi.


TUJUAN SERANGAN 1 MARET :

1.Membuktikan kepada dunia Internasional bahwa RI dan TNI masih ada.
2.Mendukung perjuangan diplomasi RI di forum PBB.
3.Membangkitkat semangan Rakyat dan TNI yang sedang bergriliya.
4Mematahkan moral dan semangan pasukan Belanda yang ada di Indonesia.


Rabu, 24 April 2013

Riwayat Perjuangan dan Penagkapan

Riwayat perjuangan 
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. 

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong. 

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830. 

Penangkapan dan pengasingan
 
16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia. 

28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April. 

11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. 

1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar. Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen. 

Riwayat Pangeran Diponogaro


Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya berada di Makassar. Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo. 

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum. 

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro. 

Riwayat I Gusti Ketut Jelantik

Lahir : Tidak diketahui
wafat : Bale Pundak, Karang Asem 1849
Makam : Karang Asem


Pada masa itu,di bali terdapat Hukum hak Tawan Karang yaitu suatu hak bagi kerajaan yang dapat menyita dan menguasai kapal-kapal yang terdampar di sepanjang Pantai Pulau Bali. Banyak Kapal-kapal milik Belanda yang terkena hukum ini sehingga Belanda merasa amat dirugikan karena adanya hukum ini.

Tahun 1843 Belanda memaksa raja-raja di bali untuk menghapuskan hukum hak Tawan Karang. namun beberapa tahun kemudian, Raja Buleleng tetap merampas kapal milik Belanda yang karam di perairannya. Hal inilah yang memicu peperangan antara Belanda dan Kerajaan Buleleng. Peperangan ini bahkan akhirnya menyebar hingga ke seluruh Bali.

I Gusti Ketut Jelantik adalah Patih Agung kerajaan Buleleng yang amat membenci belanda. Tanggal 27 Juni 1846, Belanda menyerang Kerajaan buleleng dan berhasil menduduki Istana Buleleng. Raja Buleleng dan Patih Jelantik kemudian mundur ke Jagaraga.

Pada tahun 1849, Belanda kembali menyerang Jagaraga. Tanggal 16 April 1849, Belanda berhasil menguasai Jagaraga. Belanda terus dan terus mengejar Patih Jelantik dan pasukannya dan pada pertempurandi Perbukitan Bale Pundak, Patih Jelantik gugur.

I Gusti Ketut Jelantik dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional


Sepenggal Kisah I Gusti Ngurah Rai

 I Gusti Ngurah Rai adalah pahlawan nasional asal Pulau Dewata (Bali) yang gugur dalam pertempuran sengit melawan Belanda di Tabanan Bali. Pertempuran tersebut terkenal dengan istilah Puputan Margarana. Beliau lahir di Carang sari Kabupaten Badung 30 Januari 1917 dan wafat 20 November 1946 kemudian dimakamkan di Candi Marga tabanan Bali. 

Ayahnya bernama I Gusti Ngurah Palung yang berprofesi sebagai manca (jabatan setingkat camat). Setelah menamatkan pendidikannya di HIS Denpasar dan MULO di Malang, tahun 1936 beliau melanjutkan pendidikan di Sekolah Kader Militer di Gianyar Bali. Selanjutnya mengikuti pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO) di Magelang. Pada masa pendudukan Jepang, Ngurah Rai bekerja sebagai intel sekutu di daerah Bali dan Lombok. 

Setelah Indonesia Merdeka pemerintah Indonesia I Gusti Ngurah Rai membentuk TKR Sunda Kecildan beliau menjadi komandannya dengan pangkat Letnal Kolonel. Ngurah Rai kemudian pergi ke Yogyakarta untuk konsolidasi dan mendapatkan petunjuk dari pimpinan TKR. Sekembalinya dari Yogyakarta, Bali ternyata sudah dikuasai Belanda. 

I Gusti Ngurah Rai kemudian membentuk kembali pasukannya yang telah tercerai beraidan memberi nama pasukannya Ciung Wanara. Setelah itu mereka melakukan penyergapan terhadap kedudukan Belanda di Desa Marga Tabanan Bali. Belanda kemudian melancarkan serangan besar-besaran lewat darat dan udara. Ngurah Rai kemudian meminta pasukannya untuk perang puputan (habis-habisan). Ia gugur bersama seluruh anggota pasukannya di sebelah timur laut tabanan (Bali Selatan). Perang tersebut terkenal dengan sebutan Puputan Margarana. Untuk menghormati jasanya, Pemerintah RI memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada Beliau.

Sayuti Melik


Sayuti Melik lahir di Kadisobo, Rejodani, Sleman Yogyakarta, 25 November 1908 dan meninggal di Jakarta, 2 Maret 1989. Ayahnya bernama Abdul Muin alias Partoprawito, sedang ibunya bernama Sumilah. Pendidikan dimulai dari Sekolah Ongko Loro (Setingkat SD) di desa Srowolan, hingga kelas IV dan diteruskan sampai mendapat ijazah di Yogyakarta.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMoNtduNkd51xuY5BY-UV3IhrVYMUgIhVRWRCqDrG3OKutkfFYYhUqkmbVs1qXE5gRoc_9nSwh__lRY83l-lBV_dJZ4HNtGw0kWZJfFCC4AMk5cO82wR8_WJ6e_wUu4GDwoKc5aMkIQrx_/s1600/Sayuti_Melik.jpg
Tahun 1920-1924 Sayuti Melik melanjutkan pendidikan Sekolah Guru di Solo. Di sana ia belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink. Pada usia belasan tahun itu, ia sudah tertarik membaca majalah Islam Bergerak pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri. Ketika itu banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk menentang penjajahan. Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme. Perkenalannya yang pertama dengan Bung Karno terjadi di Bandung pada 1926.
Selanjutnya kehidupan Sayuti Melik lebih banyak dinikmati di penjara. Pada tahun 1926 ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (1927-1933). Tahun 1936 ditangkap Inggris, dipenjara di Singapura selama setahun. Setelah diusir dari wilayah Inggris ditangkap kembali oleh Belanda dan dibawa ke Jakarta, dimasukkan sel di Gang Tengah (1937-1938). Kemudian tahun 1939-1941 dipenjarakan di Sukamiskin Bandung dan terlibat "Pers delict". Ketika Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942 ia dipenjarakan lagi karena dituduh menyebarkan pamflet gelap PKI akhirnya menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia ia dibebaskan. Ia menjadi anggota susulan PPKI dan turut hadir dalam peristiwa perumusan naskah Proklamasi. Teks proklamasi tulisan tangan Bung Karno diketik oleh Sayuti Melik dengan beberapa perubahan kata.
Setelah kemerdekaan Sayuti Melik menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Pada tahun 1946 atas perintah Mr. Amir Syarifudin, ia ditangkap oleh Pemerintah RI karena dianggap sebagai orang dekat "Persatuan Perjuangan" serta dianggap bersekongkol dan turut terlibat dalam "Peristiwa 3 Juli 1946" namun setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, ia dinyatakan tidak bersalah. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, ia ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ambarawa. Setelah selesai KMB, ia dibebaskan. Tahun 1950 ia diangkat menjadi anggota MPRS dan DPR-GR sebagai Wakil dariAngkatan '45 dan menjadi Wakil Cendekiawan. Tahun 1961 ia menerima Bintang Maha Putera Tingkat V. Sebagai kolumnis beberapa surat kabar, ia mencoba menulis artikel yang berjudul "Belajar Memahami Soekarnoisme". Artikel bersambung itu menjelaskan perbedaan Marhaenisme ajaran Bung Karno dan Marxisme-Leninisme doktrin PKI. Ketika itu Sayuti melihat PKI hendak membonceng kharisma Bung Karno. Akhirnya pada tahun ia 1965 ditangkap dan diperiksa oleh Kejaksaan Agung.
Pada jaman Orde Baru, Sayuti Melik diangkat menjadi anggota MPR dan DPR (1971-1977), sebagai Wakil dari Golongan Karya. Pada tanggal 11 Maret 1984 ia mendapat penghargaan selaku Pinisepuh Golongan Karya dan sebelumnya ia telah menerima tanda penghargaan antara lain tanggal 19 Mei 1973 tanda Bintang Mahaputra Adipradana II dari Presiden Soeharto, tanggal 1977 Piagam dalambidang Jurnalistik dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tanggal 23 Desember 1982 mendapat penghargaan Satya Penegak Pers dari PWI Pusat. Kunjungannya ke luar negeri lebih banyak dilakukan sewaktu menjalankan tugas kewartawanan, antara lain Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Serikat, Australia dll.

Riwayat Sukarni Kartodiwirjo


Sukarni Kartodiwirjo memang tidak memegang peranan sentral dalam perjuangan kemerdekaan, namun peranannya sangat menentukan. Indonesia mungkin tak akan memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945, jika tidak ada Sukarni. Ia menculik Soekarno – Hatta dan memaksa kedua pemimpin itu menyatakan bahwa Indonesia sudah merdeka.
Saat itu Sukarni yang mewakili generasi muda merasa gerah dengan sikap wait and see yang dipilih Bung Karno dan Bung Hatta menyikapi menyerahnya Jepang terhadap Sekutu. Kelompok anak muda itu kemudian menculik Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Setelah ide memanfaatkan vacuum of power untuk menyatakan kemerdekaan disetujui, maka kedua pemimpin tersebut dibebaskan kembali ke Jakarta untuk memimpin rapat penyusunan teks proklamasi.
Sukarni lahir di Blitar tahun 1916. Ia adalah aktivis militas yang pantang berkompromi. Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai perkelahian dengan anak-anak Belanda. Hampir setiap hari, anak pedagang sapi ini menantang berkelahi sinyo-sinyo Belanda. Ketidaksukaannya terhadap penjajah rupanya merupakan pengaruh gurunya, Moh. Anwar.
Pemuda Sukarni sempat menjadi ketua Indonesia Muda cabang Blitar. Pertemuannya dengan Bung Karno saat menempuh pendidikan di kweekschool (sekolah guru) di Jakarta, membuatnya makin tertarik pada dunia politik.
Setelah menculik dan memaksa Soekarno – Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI, Sukarni juga aktif dalam berbagai episode perjuangan. Tokoh revolusioner pemberani ini berperan besar dalam perjalanan parlemen Indonesia. Saat negara masih belia, sehingga belum sempat dilaksanakan Pemilihan Umum, Sukarni mengusulkan agar sebelum terbentuk DPR dan MPR, tugas legislatif dijalankan oleh KNIP. Sukarni pulalah yang memperjuangkan pembentukan Badan Pekerja KNIP sebagai lembaga negara yang mewujudkan kedaulatan rakyat sekaligus pemimpin rakyat. Ia kemudian diangkat menjadi anggota DPRD dan Konstituante.
Namun hubungannya dengan Bung Karno tidak mulus. Melalui Partai Murba, Sukarni menentang kebijakan-kebijakan Soekarno. Sikap itu harus dibayar mahal dengan kebebasannya. Sukarni keluar dari penjara setelah Orde Baru berkuasa.
Ia wafat pada 7 Mei 1971 sewaktu menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung RI.

Mr.Ahmad Soebardjo


Mr. Achmad Soebardjo Djojoadisurjo (lahir di Karawang, Jawa Barat pada tanggal 23 Maret 1896). Ia bersekolah di HBS (Sekolah Menegah Atas) di Jakarta pada tahun 1917 kemudian memperoleh gelar "Meester in de Rechten" disingkat "Mr" atau disebut juga Sarjana Hukum (SH) pada tahun 1933 di Universitas Leiden, Belanda.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1o6czxyHGNfdubnc-5C1ssfZC4wpGh8GrXyHxstNdUNY-XDnuNOO6pGYUpcybagmtrVyp-UuSS7a5PcLPcwe0Y6iEfTl7W3MNiVak92IOZOVxLatj4-dGpWA0dkw78KFj8o2E8t9t5cUj/s200/Ahmad_Soebardjo.jpg
Ketika masih mahasiswa, Achmad Soebardjo aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung di organisasi kepemudaan seperti Jong Java dan Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Belanda. Ia merupakan anggota delegasi Indonesia pada Kongres Anti Imperialis di Belgia dan Jerman.
Semasa pendudukan Jepang Achmad Soebardjo menjadi pembantu kantor penasihat Angkatan Darat Jepang dan kepala Biro Riset Angkatan Laut Jepang pimpinan Laksamana Maeda. Menjelang proklamasi kemerdekaan, ia duduk dalam keanggotaan Badan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Bersama Mr. Dr. Soepomo dan Mr. A.A. Maramis ia merancang Undang-undang Dasar negara Indonesia. Ia pun dikenal sebagai salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, danWikana, Shodanco Singgih, dan pemuda lain, membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Peristiwa ini dinamakan Peristiwa Rengasdengklok.
Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Achmad Soebardjo melakukan perundingan. Achmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Achmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Soekarno dan Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Achmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan.
Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Achmad Soebardjo diangkat menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Presidensial periode 19 Agustus 1945 – 14 November 1945 dan kembali menjabat Menteri Luar Negeri pada Kabinet Sukiman-Suwirjo periode 1951 – 1952. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Federal Swiss periode 1957 – 1961.
Riwayat karir:
•  Menteri Luar Negeri Kabinet Presidensial (19 Agustus 1945 – 14 November 1945)
•  Menteri Luar Negeri Kabinet Sukiman-Suwirjo (1951 – 1952)
•  Duta Besar Indonesia untuk Republik Federal Swiss (1957 – 1961)
Mr. Soebardjo pernah memegang beberapa jabatan non pemerintahan, antara lain ketua presiden Lembaga Indonesia dan wakil ketua Federasi Perhimpunan PBB., ia memberi kuliah di berbagai universitas, antara lain di Universitas Indonesia. Ia mengasuh mata kuliah Sejarah Pergerakan serta Pancasila. Wafat tanggal 15 Desember 1978, dimakamkan di Cipayung, Bogor.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Sri Sultan Hamengkubuwona IX lahir di Yogyakarta,12 April 1912 terlahir dengan nama Dorodjatun.Ayahnya adalah Gusti Pangeran Haryo Puroboyo. Sri Sultan Hamengkubuwona IX adalah seorang raja. Ia juga pemimpin bangsa dalam menghadapi serbuan Belanda. pada tanggal 19 Agustus 1945, ia menyatakan bahwa Yogyakarta yang berbentuk kerajaan itu bagian dari NKRI.
  Pada umur 3 tahun, ia diangkat sebagau Putra mahkota ( calon raja ) dengan gelar "Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Mataram"ia sekolah dasar di Earste Europase Lagere School tamat pada tahun 1925.Ia melanjutkan ke Hogere Burger School ( HBS ) di Semarang dan kemudian di Bandung lalu ia berangkat ke Belanda untuk kuliah di Rijkuniversiteit Laiden. Ia kembali ke Indonesia tahun 1939.
  Ia mendapt gelar" Sampeyan dalem Ingkang Sinuwun Sultan Hamengkubuwono,Senopati Ing Ngalogo,Abdurahman Syaidin Ponotogomo, dan Kalifatullah Ingkang Keping Songo."

Selasa, 23 April 2013

Riwayat Mohammad Hatta


Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi 12 Agustus 1902, . Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya.

Tahun 1916, Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond. Pada saat itu timb
ul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, dan Jong Ambon.

Tahun 1921, Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging.

Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

17 Januari 1926, Hatta terpilih menjadi Ketua PI. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul "Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen"--Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

10-15 Pebruari 1927, Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.

22 Maret 1928, Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, oleh mahkamah pengadilan di Den Haag keempatnya dibebaskan dari segala tuduhan. Sebelumnya mereka dipenjara selama lima setengah bulan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama "Indonesia Vrij", dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.

Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta.

Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.

Februari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira.

Januari 1936, keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

8 Desember 1942, pidato yang diucapkannya di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali."

Awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa.

16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.

17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Tanggal l8 Nopember 1945, Hatta menikahi dengan Rahmi Rachim di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah.

Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.

27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.

17 Juli 1953, dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden.

 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”.

Tahun 1960, Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.

Tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.

Tanggal 14 Maret 1980, Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada keesokan harinya.

Kisah dan Riwayat Sang Proklamator Ir.Soekarno

Ir.Soekarno lahir di Blitar, 6 Juni 1901.Beliau lahir dengan nama Kusnososro Soekarno. Ayahnya bernamaRaden Sukemi,seorang guru di Surabaya,Jawa Timur. Sedangkan Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai,yang berasal dari Bali.
  Ketika kecil, Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun,seorang taman ayahnya yang bernama Tjokroaminito mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan di Hooger Burger School ( HBS ).Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Serekat Islam,organisasi yang dipimpin oleh Tjokroaminoto saat itu.Soekarno kemudian bergabungt dengan organisasi Jong Java ( Pemuda Jawa ).
  Setelah tamat HBS Pada tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Tecnische Hooge School ( sekarang ITB ), Bandung, dan tamat pada tahun 1925.Saat di Bandung, Soekarno bertemu dangan Dr.Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker, yang saat itu menjadi pemimpin organisasi Nasional, Indische Partij.
  Pada tahun 1927, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkania ditangkap oleh Belanda pada bulan Desamber 1929, Hingga di bebaskan kembali pada Tanggal 31 Desamber 1931. Ia pernah ditahan di beberapa tempat yang berbeda,antara lain Jakarta,Bandung,Ende,dan Bengkulu.
  Pada masa menjadi ketua Pusat Tenaga Rakyat ( PUTERA ). Ketika pada bulan September 1944,Jepang menjanjikan untuk memerdekakan Indonesia, Ia turut mendirikan Badan Penyelidik Usaha Persiapann Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI ). Dalam badan itu, Pada tanggal 1 juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan dasar nagara yang disebutnya Pancasila.Gagasan itu disempurnakan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).Pada tanggal 17 Agustus 1945,Ir.Soekarno dan Drs.Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdakaan Indonesia di Jl.Pegangsaan Timur Raya no. 52,Jakarta.1 Agustus 1945 dalam sidang PPKI Ir.Soekarno terplih secara aklamasi manjadi Presiden Republik Indonesia. Jabatan Itu diemban sampai dengan tahun 1967.



Konfrensi Meja Bundar ( KMB )

Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia danBelanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949.

Isinya :
1. Serah terima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, kecuali Irian bagian barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Irian bagian barat negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Irian bagian barat bukan bagian dari serah terima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.

2. Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan monarch Belanda sebagai kepala negara

3. Pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat. sebagai berikut:

Pembentukan Republik Indonesia Serikat ( RIS )

Tanggal 27 Desember 1949, pemerintahan sementara negara dilantik. Soekarno menjadi Presidennya, dengan Hatta sebagai Perdana Menteri membentuk Kabinet Republik Indonesia Serikat. Indonesia Serikat telah dibentuk seperti republik federasi berdaulat yang terdiri dari 16 negara yang memiliki persamaan persekutuan dengan Kerajaan Belanda.

Perundingan Renville






Atas usulan KTN pada tanggal 8 Desember 1947 dilaksanakan perundingan antara Indonesia dan Belanada di atas kapal Renville yang sedang berlabuh di Jakarta. Delegasi Indonesia terdiri atas perdana menteri Amir Syarifudin, Ali Sastroamijoyo, Dr. Tjoa Sik Len, Moh. Roem, Haji Agus Salim, Narsun dan Ir. Juanda. Delegasi Belanda terdiri dari Abdulkadir Widjojoatmojo, Jhr. Van Vredeburgh, Dr. Soumukil, Pangran Kartanagara dan Zulkarnain. Ternyata wakil-wakil Belanda hampir semua berasala dari bangsa Indonesia sendiri yang pro Belanda. Dengan demikian Belanda tetap melakukan politik adu domba agar Indonesia mudah dikuasainya. Setelah selesai perdebatan dari tanggal 8 Desember 1947 sampai dengan 17 Januari 1948 maka diperoleh hasil persetujuan damai yang disebut Perjanjian Renville. Pokok-poko isi perjanjian Renville, antara lain sebagai berikut :
  1. Belanda tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia samapi kedaulatan Indonesia diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat yang segera terbentuk.
  2. Republik Indonesia Serikat mempunyai kedudukan yang sejajar dengan negara Belanda dalam uni Indonesia-Belanda.
  3. Republik Indonesia akan menjadi negara bagian dari RIS
  4. Sebelum RIS terbentuk, Belanda dapat menyerahkan sebagain kekuasaannya kepada pemerintahan federal sementara.
  5. Pasukan republic Indonesia yang berda di derah kantong haruns ditarik ke daerah Republik Indonesia. Daerah kantong adalah daerah yang berada di belakang Garis Van Mook, yakni garis yang menghubungkan dua derah terdepan yang diduduki Belanda.
Perjanjian Renville ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal 17 Januari 1948. adapun kerugian yang diderita Indonesia dengan penandatanganan perjanjian Renville adalah sebagai berikut :
  1. Indonesia terpaksa menyetujui dibentuknya negara Indonesia Serikat melalaui masa peralihan.
  2. Indonesia kehilangan sebagaian daerah kekuasaannya karena grais Van Mook terpaksa harus diakui sebagai daerah kekuasaan Belanda.
  3. Pihak republik Indonesia harus menarik seluruh pasukanya yang berda di derah kekuasaan Belanda dan kantong-kantong gerilya masuk ke daerah republic Indonesia.
Penandatanganan naskah perjanjian Renville menimbulkan akibat buruk bagi pemerinthan republik Indonesia, antra lain sebagai berikut:






Perundingan Linggarjati

Dalam upaya perdamaian, Inggris mempertemukan Belanda dan Indonesia di Linggarjati ( sekarang Kab.Kuningan), Jawa Barat. Dalam perundingan ini Indonesia diwakili Perdana Menteri Sutan Syahrir, Belanda diwakili oleh Van Mook. Hasil perundingan ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947.

Isi perundingan Linggarjati, Yaitu

1.Belanda mengakui wilayah Indonesia secara De Facto ( Pengakuan secara Fisik/nyata di suatu wilayah karna telah berdiri suatu negara) yang meliputi Sumatra,Madura, dan Jawa.

2. Republik Indonesia bersama Belanda bekerjasama membentuk negara Republik Indonesia Serikat ( RIS ).

3. Bersama-sama membentuk Uni Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai pemimpinnya.

Perundingan Roem-Royen




Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Namanya diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen. Maksud pertemuan ini adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama. Perjanjian ini sangat alot sehingga memerlukan kehadiran Bung Hatta dari pengasingan di Bangka, juga Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta untuk mempertegas sikap Sri Sultan Hamengku Buwono IX terhadap Pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta, dimana Sultan Hamengku Buwono IX mengatakan “Jogjakarta is de Republiek Indonesie” (Yogyakarta adalah Republik Indonesia )

Isi Perundingan Roem-Royen ,Yaitu :
1. Penghentian tembak-menambak antara Indonesia dengan Belanda.
2. Pengembalian pemerintah RI ke D.I Yogyakarta
3. Pembebasan para pemimpin RI yang ditahan di Belanda
4. Segera mengadakan Konfrensi Meja Bundar ( KMB ) di Den Haag, Belanda